JAKARTA – Suku bunga Amerika Serikat menjadi perhatian pelaku pasar menjelang rapat Federal Reserve (The Fed) pada 27–28 Oktober 2026. Bank sentral AS sebelumnya menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,75–4,00 persen pada 16 September 2026.
Data terbaru menunjukkan tekanan inflasi masih menjadi tantangan bagi perekonomian AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) pada September 2026 meningkat 0,6 persen secara bulanan. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,7 persen, naik dari 3,4 persen pada Agustus.
Kenaikan harga energi turut mendorong tekanan tersebut. Harga bensin melonjak 7,1 persen selama September. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi Amerika Serikat belum kembali terkendali.
Meski demikian, The Fed belum tentu langsung menaikkan suku bunga pada Oktober. Survei Reuters pada 16–20 Oktober menunjukkan 94 dari 100 ekonom memperkirakan suku bunga tetap pada kisaran 3,75–4,00 persen dalam rapat mendatang.
Namun, arah kebijakan Desember menghadirkan risiko berbeda. Seluruh 100 ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed kembali menaikkan suku bunga pada Desember. Proyeksi tersebut mencerminkan kekhawatiran terhadap inflasi yang bertahan di atas target bank sentral sebesar 2 persen. Perkiraan ini bukan keputusan resmi The Fed.
Perubahan kebijakan The Fed dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dan rupiah. Suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Namun, pergerakan kurs tetap bergantung pada kondisi ekonomi, arus modal, serta kebijakan Bank Indonesia.
Pasar emas juga menghadapi risiko perubahan ekspektasi suku bunga. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar dapat menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil. Sementara itu, Bitcoin dan aset kripto berpotensi menghadapi tekanan jika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Investor kini menantikan keputusan The Fed pada 28 Oktober 2026 serta petunjuk mengenai kebijakan Desember. Perkembangan inflasi, harga energi, dan kondisi pasar tenaga kerja akan menjadi faktor penting. Pelaku pasar perlu membedakan keputusan resmi bank sentral dari proyeksi ekonom sebelum mengambil keputusan investasi. (Tim)
Editor : FANDA YOSEPHTA









