JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. Berdasarkan laporan Bisnis.com pukul 09.24 WIB, rupiah naik 0,04% ke level Rp18.038 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi setelah rupiah menutup perdagangan sehari sebelumnya di posisi Rp18.046 per dolar AS. Pada Senin, 19 Oktober 2026, mata uang domestik melemah 0,11% akibat tekanan pasar keuangan global dan aksi jual investor asing.
Pergerakan rupiah pada Selasa juga sejalan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia. Ringgit Malaysia naik 0,02%, yuan China menguat 0,04%, dan rupee India naik 0,03%. Peso Filipina turut menguat 0,03%, sedangkan won Korea Selatan naik 0,31%.
Namun, penguatan rupiah masih menghadapi sejumlah tantangan. Yen Jepang melemah 0,03%, dolar Taiwan turun 0,11%, dan baht Thailand terkoreksi 0,07%. Perbedaan pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang kawasan belum sepenuhnya mereda.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai sentimen risk-off menjadi salah satu faktor yang menekan rupiah. Kondisi tersebut mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko dan meningkatkan kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi.
Selain itu, eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan konflik Rusia-Ukraina turut menopang permintaan terhadap dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman. Arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik juga menambah tekanan terhadap mata uang Indonesia.
Di dalam negeri, perhatian investor tertuju pada keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan pada Rabu, 21 Oktober 2026. Keputusan suku bunga dan arah kebijakan moneter menjadi faktor penting yang perlu dicermati pelaku pasar dalam menilai prospek rupiah.
Lukman Leong memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam tekanan apabila arus keluar modal asing berlanjut. Dalam kondisi tersebut, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp18.000–Rp18.100 per dolar AS. Penguatan pada pembukaan perdagangan belum cukup untuk memastikan pembalikan tren, sehingga investor perlu mencermati perkembangan geopolitik, aliran modal asing, dan keputusan Bank Indonesia. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









