KOTA SUNGAI PENUH – Kualitas udara di Kota Sungai Penuh, Jambi, masuk kategori tidak sehat. Data sementara Dinas Lingkungan Hidup Kota Sungai Penuh mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) mencapai 106,94 pada 9–10 Oktober 2026.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran warga, terutama orang tua yang memiliki bayi dan balita. Paparan asap dan partikel pencemar udara dapat mengganggu saluran pernapasan, khususnya pada anak-anak.
Salah seorang ibu rumah tangga di Kota Sungai Penuh, Kiki, mengaku anaknya yang berusia kurang dari dua tahun mengalami batuk kering selama dua hari terakhir. Ia mengaku sedih melihat kondisi anaknya setiap kali batuk.
“Sudah dua hari ini anak saya umur kurang 2 tahun mengalami batuk kering atau tidak berdahak. Kasihan sekali kita melihatnya ketika sedang batuk, dan langsung nangis,” ujar Kiki.
Keluhan tersebut menambah kekhawatiran masyarakat di tengah kondisi udara yang tercatat tidak sehat. Namun, penyebab batuk yang dialami anak Kiki belum dapat dipastikan. Pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui apakah keluhan tersebut berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi akibat polusi, atau penyebab lainnya.
Berdasarkan infografis pemantauan Dinas Lingkungan Hidup Kota Sungai Penuh, pengukuran selama 24 jam mencatat konsentrasi PM2,5 sebesar 61,99 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, konsentrasi total partikel tersuspensi (TSP) tercatat 251,82 mikrogram per meter kubik.
Angka ISPU 106,94 masuk rentang 101–200 yang dikategorikan tidak sehat. Pada kondisi ini, kualitas udara berpotensi merugikan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Kelompok sensitif, termasuk anak-anak, perlu mendapat perhatian lebih.
Orang tua disarankan mengurangi aktivitas anak di luar ruangan saat udara berasap. Tutup jendela jika asap masuk ke rumah, hindari sumber pembakaran, dan upayakan anak berada di ruangan dengan udara yang lebih bersih. Masker tidak boleh dipaksakan kepada bayi atau balita yang belum mampu menggunakannya secara aman. Jika memungkinkan, gunakan ruang berpendingin dengan filtrasi udara yang baik.
Apabila balita mengalami batuk berkepanjangan, napas cepat atau sulit, tampak lemas, sulit minum, atau bibir membiru, segera cari pertolongan medis. Orang tua sebaiknya tidak memberikan obat batuk sembarangan kepada anak kecil. Dinas terkait juga diharapkan terus memantau kualitas udara dan menyampaikan pembaruan kepada masyarakat agar warga dapat mengambil langkah pencegahan. (fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









