SUNGAI PENUH — Peta politik Partai Golkar di Kota Sungai Penuh memasuki babak baru setelah Hutri Randa, S.Sos., MM., menerima Surat Keputusan kepengurusan DPD Partai Golkar Kota Sungai Penuh periode 2026–2031.
Pergantian kepemimpinan tersebut tidak sekadar menjadi perubahan struktur organisasi. Di balik terbitnya SK tersebut, muncul pertanyaan lebih besar mengenai arah politik Golkar Sungai Penuh setelah tidak lagi berada dalam bayang-bayang kuat trah AJB.
Kini, kendali organisasi berada di tangan Hutri Randa. Politisi tersebut menghadapi pekerjaan besar untuk membuktikan apakah Golkar mampu mempertahankan posisi sebagai kekuatan politik utama di Kota Sungai Penuh.
Tantangannya tidak ringan. Pada Pileg 2024, Golkar berhasil meraih lima kursi DPRD Kota Sungai Penuh dan menempatkan kadernya sebagai Ketua DPRD. Capaian tersebut membuat Golkar berada di posisi strategis dalam percaturan politik daerah.
Namun, sejarah Golkar Sungai Penuh juga menunjukkan bahwa dominasi elektoral tidak selalu bertahan. Perubahan figur, mesin partai, loyalitas kader, serta persaingan antarpartai dapat mengubah peta kekuatan dalam satu periode pemilu.
Karena itu, Pileg 2029 akan menjadi ujian penting bagi Hutri Randa. Pertanyaan yang kini mulai muncul bukan hanya apakah Golkar mampu menjadi pemenang, tetapi apakah lima kursi DPRD yang diraih pada 2024 dapat dipertahankan.
Jika gagal menjaga soliditas, Golkar bahkan berpotensi menghadapi penurunan tajam. Bukan tidak mungkin partai yang kini menjadi kekuatan terbesar di DPRD tersebut kembali menghadapi kondisi ketika perolehan kursinya hanya tersisa satu.
Sebaliknya, jika Hutri mampu menyatukan kader, memperkuat struktur hingga tingkat bawah, menjaga hubungan dengan konstituen, dan menghadirkan figur caleg yang memiliki daya elektoral, Golkar berpeluang mempertahankan bahkan memperbesar kekuatan politiknya pada Pileg 2029.
Hutri Randa dan Ujian Membuktikan Golkar Bukan Sekadar Kekuatan Trah
Terbitnya SK kepengurusan baru juga menjadi momentum untuk menguji apakah kekuatan Golkar Sungai Penuh benar-benar berada pada institusi partai atau selama ini sangat bergantung pada figur dan jaringan politik tertentu.
Hutri Randa kini dituntut membangun Golkar dengan basis organisasi yang lebih solid. Konsolidasi internal menjadi penting setelah dinamika Musda IV sempat memunculkan perbedaan pandangan mengenai kepengurusan.
Dalam struktur baru, Hutri Randa didampingi Haidir, SE., sebagai Sekretaris dan Hendri Susiawan, A.Md., sebagai Bendahara. Komposisi tersebut akan menjadi bagian penting dari mesin politik Golkar menuju kontestasi berikutnya.
Di sisi lain, empat partai dengan masing-masing tiga kursi pada Pileg 2024, yakni PDI-P, PKS, PPP, dan PAN, menjadi pesaing yang tidak bisa dianggap remeh.
Selisih satu atau dua kursi dapat menentukan siapa yang menguasai posisi strategis di DPRD. Karena itu, mempertahankan lima kursi bukan pekerjaan administratif, melainkan pertarungan politik yang membutuhkan konsolidasi panjang.
Golkar juga harus menghadapi perubahan perilaku pemilih. Pemilih pada 2029 belum tentu memiliki preferensi yang sama dengan pemilih pada 2024. Figur baru, isu lokal, kinerja anggota DPRD, serta kekuatan jaringan di setiap daerah pemilihan dapat memengaruhi hasil.
Hutri Randa sendiri memiliki modal politik dari pengalaman elektoral sebelumnya. Namun, tantangan sebagai Ketua DPD tentu berbeda dengan perjuangan sebagai calon legislatif.
Kini ia harus membuktikan kemampuan mengelola seluruh mesin partai, bukan hanya mempertahankan basis suara pribadi.
Dari Lima Kursi Menuju 2029
Pertarungan Golkar menuju Pileg 2029 pada akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan partai mengubah modal politik menjadi kekuatan organisasi.
Lima kursi yang diperoleh pada 2024 menjadi standar politik yang harus dipertanggungjawabkan kepengurusan baru. Penurunan perolehan kursi akan menjadi sorotan, sedangkan keberhasilan mempertahankan atau menambah kursi akan memperkuat posisi Hutri Randa.
Karena itu, pertanyaan terbesar sekarang adalah apakah Hutri Randa mampu membawa Golkar keluar dari politik berbasis trah dan membangun kekuatan yang bertumpu pada organisasi, kader, serta elektabilitas calon.
Jika berhasil, Pileg 2029 dapat menjadi momentum lahirnya wajah baru Golkar Sungai Penuh. Namun jika gagal, sejarah penurunan kekuatan Golkar dapat kembali terulang.
Pada akhirnya, SK periode 2026–2031 bukanlah garis akhir. Justru sejak dokumen itu berada di tangan Hutri Randa, hitungan menuju Pileg 2029 dimulai.
Lima kursi harus dipertahankan. Jika tidak, Golkar harus bersiap menghadapi pertanyaan yang jauh lebih berat: apakah kekuatan politiknya benar-benar sudah berubah, atau hanya berganti nama dan figur? (fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









