TEKNOLOGI – Kisah Noah Shinn, pengusaha teknologi berusia 23 tahun, menjadi sorotan setelah startup kecerdasan buatan (AI) yang didirikannya berkembang sangat cepat di Silicon Valley.
Startup bernama Instinct tersebut disebut telah mencapai valuasi sekitar US$10 miliar, atau sekitar Rp179 triliun jika menggunakan kurs Rp17.900 per dolar AS.
Angka tersebut menjadi perhatian karena Instinct baru didirikan sekitar satu tahun sebelumnya. Perusahaan juga masih membatasi akses produknya dan menerapkan sistem undangan bagi pengguna.
Valuasi Instinct Melonjak dalam Waktu Singkat
Perjalanan Instinct menuju valuasi US$10 miliar berlangsung sangat cepat.
Sebelumnya, startup tersebut mendapatkan pendanaan sebesar US$250 juta yang membuat valuasinya mencapai sekitar US$2,5 miliar.
Tidak lama kemudian, Instinct kembali memperoleh pendanaan hingga US$1 miliar. Putaran pendanaan yang diumumkan pada 28 September tersebut melibatkan sejumlah investor besar, termasuk Sequoia Capital, Benchmark Capital, dan Coatue.
Pendanaan tersebut mendorong valuasi Instinct menjadi sekitar US$10 miliar.
Dengan demikian, nilai perusahaan mengalami peningkatan yang sangat besar hanya dalam hitungan bulan. Namun, angka valuasi perusahaan tidak dapat disamakan dengan jumlah uang tunai atau kekayaan pribadi yang dimiliki Shinn.
Instinct Bukan Sekadar Chatbot AI
Salah satu hal yang membedakan Instinct dari chatbot AI konvensional adalah kemampuannya untuk menjalankan tugas berdasarkan instruksi pengguna.
Menurut penjelasan perusahaan, Instinct dirancang sebagai asisten AI pribadi yang dapat memahami aktivitas dan preferensi pengguna.
Pengguna dapat berkomunikasi melalui pesan teks maupun panggilan telepon. Setelah menerima instruksi, sistem dapat menjalankan sejumlah pekerjaan menggunakan perangkat seperti komputer dan ponsel.
Contoh tugas yang dapat diminta antara lain merencanakan perjalanan, membeli kebutuhan, memesan tiket, hingga membatalkan layanan berlangganan.
Teknologi tersebut juga dikembangkan untuk membantu kebutuhan yang lebih kompleks. Beberapa pengguna bahkan disebut memanfaatkannya untuk membantu merencanakan pernikahan.
Instinct juga mengembangkan kemampuan untuk menelepon tempat usaha atas nama pengguna, misalnya untuk melakukan reservasi.
Konsep tersebut merupakan bagian dari perkembangan agentic AI, yakni sistem AI yang tidak hanya menghasilkan jawaban, tetapi juga dapat melakukan serangkaian tindakan untuk menyelesaikan sebuah tujuan.
Awal Karier Noah Shinn di Dunia AI
Sebelum mendirikan Instinct, Shinn telah lebih dulu terlibat dalam penelitian kecerdasan buatan.
Ia pernah menempuh pendidikan di Northeastern University, Boston, dengan ketertarikan pada berbagai bidang, termasuk pemrograman dan teknik kedirgantaraan.
Tidak lama setelah ChatGPT diperkenalkan pada akhir 2022, Shinn terlibat dalam eksperimen AI bersama peneliti lain setelah merespons kesempatan penelitian yang dibuka oleh Ashwin Gopinath.
Dalam penelitian tersebut, mereka mengembangkan Reflexion, sebuah kerangka kerja yang memungkinkan agen AI belajar dari kesalahan dan memperbaiki respons pada percobaan berikutnya.
Penelitian itu kemudian menjadi salah satu karya yang dikenal dalam perkembangan sistem AI berbasis agen.
Menurut profesor ilmu komputer Northeastern, Arjun Guha, teknik yang dikembangkan dalam penelitian tersebut kemudian banyak digunakan dan dikembangkan kembali oleh pihak lain.
Drop Out dan Bergabung dengan Startup AI Sierra
Pada 2023, Shinn memutuskan meninggalkan bangku kuliah dan bergabung dengan Sierra, startup AI yang didirikan antara lain oleh Bret Taylor.
Di perusahaan tersebut, Shinn bekerja sebagai peneliti AI dan terlibat dalam pengembangan produk inti.
Ia juga terus terlibat dalam penelitian mengenai kemampuan agen AI, termasuk bagaimana sistem dapat mengikuti instruksi, menggunakan perangkat lunak, dan menghasilkan kode.
Shinn kemudian meninggalkan Sierra pada September 2025.
Sebulan setelahnya, ia mendirikan Instinct dan mulai mengembangkan produk secara lebih tertutup.
Pengujian beta dilakukan secara terbatas pada Februari 2026. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Agustus, Instinct mulai memberikan akses yang lebih luas tetapi masih menggunakan sistem undangan.
Tumbuh Tanpa Banyak Mengandalkan Iklan
Pertumbuhan Instinct juga menarik perhatian karena perusahaan mengklaim tidak mengeluarkan biaya untuk pemasaran.
Shinn mengatakan pertumbuhan produk banyak terjadi melalui rekomendasi dari pengguna.
Sistem undangan bahkan disebut menciptakan permintaan yang cukup tinggi. Dalam laporan yang dikutip sumber tersebut, terdapat pengguna yang menawarkan undangan Instinct untuk dijual melalui platform perdagangan online.
Sebagian pengguna awal Instinct berasal dari kalangan investor modal ventura. Dari kelompok tersebut, produk kemudian menyebar melalui rekomendasi dari satu pengguna ke pengguna lainnya.
Instinct juga disebut telah mendekati US$1 miliar dalam volume transaksi tahunan, dengan sektor perjalanan menyumbang sekitar separuh dari angka tersebut.
Instinct Mulai Berhadapan dengan Meta
Pertumbuhan Instinct membuat perusahaan tersebut masuk ke arena persaingan yang lebih luas dengan perusahaan teknologi besar.
Meta juga tengah mengembangkan agen AI personal bernama Muse. Konsep yang ditawarkan memiliki kesamaan dengan Instinct, yaitu membuat AI yang mampu melakukan tindakan nyata bagi pengguna, bukan sekadar memberikan jawaban melalui percakapan.
Persaingan tersebut bahkan sempat muncul di media sosial. Chief AI Officer Meta, Alexandr Wang, beberapa kali melontarkan komentar mengenai Instinct.
Shinn sendiri memilih merespons persaingan tersebut secara santai. Ia menyebut Muse sebagai produk yang bagus dan mengatakan tidak terlalu banyak menghabiskan waktu untuk memikirkan kompetitor.
Masa Depan Agentic AI
Perkembangan Instinct menunjukkan besarnya perhatian investor terhadap teknologi agentic AI.
Berbeda dari chatbot yang umumnya menunggu pertanyaan dan memberikan respons, agen AI dirancang untuk menjalankan beberapa langkah secara mandiri guna mencapai tujuan yang diberikan pengguna.
Teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari perjalanan, belanja, pemesanan layanan, hingga pekerjaan administratif.
Namun, semakin besar kemampuan AI untuk bertindak atas nama manusia, semakin penting pula aspek keamanan, privasi, serta kontrol pengguna terhadap tindakan yang dilakukan sistem.
Bagi Instinct, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan pertumbuhan valuasi, tetapi juga membuktikan bahwa teknologi asistennya mampu bekerja secara konsisten dan aman ketika digunakan dalam skala yang lebih besar.
FAQ
Siapa Noah Shinn?
Noah Shinn adalah pengusaha dan peneliti AI yang mendirikan startup Instinct. Ia sebelumnya pernah terlibat dalam penelitian agen AI dan bekerja di startup AI Sierra.
Apa itu Instinct?
Instinct merupakan startup yang mengembangkan asisten AI personal yang dirancang untuk menjalankan berbagai tugas berdasarkan instruksi pengguna.
Berapa valuasi Instinct?
Instinct disebut telah mencapai valuasi sekitar US$10 miliar, setara sekitar Rp179 triliun dengan asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS.
Apakah Rp179 triliun merupakan kekayaan Noah Shinn?
Tidak. Angka tersebut merupakan estimasi valuasi perusahaan, bukan jumlah kekayaan pribadi Shinn.
Apa yang dimaksud agentic AI?
Agentic AI adalah sistem kecerdasan buatan yang dirancang tidak hanya untuk memberikan jawaban, tetapi juga melakukan tindakan atau serangkaian tugas untuk mencapai tujuan yang diberikan pengguna.
Siapa pesaing Instinct?
Salah satu perusahaan yang mengembangkan produk dengan konsep serupa adalah Meta melalui agen AI personal Muse.









