Pengganti Freon Mulai Dikembangkan, Teknologi Garam Bisa Ubah AC dan Kulkas

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 26 September 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TEKNOLOGI-Teknologi pendingin udara dan lemari es berpotensi mengalami perubahan besar seiring pengembangan sistem pendingin yang tidak lagi mengandalkan refrigeran berbasis hydrofluorocarbon (HFC) yang umum digunakan saat ini.

Para peneliti dari Lawrence Berkeley National Laboratory dan University of California, Berkeley, mengembangkan teknologi pendingin berbasis siklus ionokalori (ionocaloric cycle). Teknologi ini memanfaatkan ion atau partikel bermuatan untuk memicu perubahan fase material sehingga panas dapat diserap dan dipindahkan.

Inovasi tersebut dikembangkan sebagai salah satu alternatif terhadap sistem pendingin konvensional yang selama ini digunakan pada berbagai perangkat, mulai dari AC hingga kulkas.

Teknologi Pendingin Ionokalori Memanfaatkan Garam

Pada sistem pendingin konvensional, refrigeran bekerja melalui siklus penguapan dan kondensasi. Zat pendingin menyerap panas dari lingkungan, kemudian melepaskan panas tersebut melalui rangkaian tertutup sebelum kembali digunakan dalam siklus berikutnya.

Para peneliti mencoba pendekatan berbeda dengan memanfaatkan perubahan fase material. Prinsipnya mirip dengan es yang mencair. Ketika es berubah menjadi air, proses tersebut menyerap panas dari lingkungan sehingga area di sekitarnya menjadi lebih dingin.

Dalam teknologi ionokalori, proses perubahan fase tersebut dipicu dengan bantuan ion. Penambahan partikel bermuatan dapat membantu material mengalami perubahan fase tanpa harus mengandalkan peningkatan suhu seperti pada proses konvensional.

Analogi sederhananya mirip dengan penggunaan garam pada salju. Garam dapat memengaruhi proses pembentukan dan pencairan es. Prinsip inilah yang kemudian dikembangkan untuk menciptakan siklus pendinginan.

Baca Juga :  Harga BBM Pertamina Terbaru 25 Maret 2026, Cek Pertamax, Dexlite di Jakarta, Sumbar, Jambi

Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory menyebut siklus ionokalori memiliki potensi karena berusaha menggabungkan efisiensi, aspek keselamatan, dan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Eksperimen Berhasil Menurunkan Suhu

Dalam tahap eksperimen, tim peneliti menggunakan campuran garam berbasis yodium dan natrium untuk membantu mencairkan etilena karbonat.

Menariknya, etilena karbonat yang digunakan dalam penelitian tersebut dapat diproduksi dengan memanfaatkan karbon dioksida sisa. Karena itu, proses pembuatannya disebut memiliki potensi menghasilkan emisi negatif.

Hasil pengujian menunjukkan teknologi tersebut mampu menurunkan suhu hingga 25 derajat Celsius dengan penggunaan tegangan listrik sekitar 1 volt.

Hasil ini masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan. Artinya, teknologi tersebut belum dapat langsung dianggap sebagai pengganti AC atau kulkas yang tersedia di pasaran saat ini.

Garam Berbasis Nitrat Jadi Kandidat

Pengembangan berikutnya berfokus pada pencarian material yang paling efektif untuk sistem ionokalori.

Salah satu kandidat yang mendapat perhatian adalah garam berbasis nitrat. Material tersebut disebut menunjukkan kinerja yang menjanjikan dalam menyerap dan memindahkan panas.

Para ilmuwan masih perlu mengembangkan rancangan sistem yang lebih praktis agar teknologi tersebut dapat diterapkan pada perangkat pendingin komersial.

Jika berhasil dikembangkan, teknologi ionokalori berpotensi menjadi salah satu alternatif sistem refrigerasi dengan dampak lingkungan yang lebih rendah.

Baca Juga :  Harga Laptop Diprediksi Naik 2027, Pasar PC Global Anjlok akibat Krisis Chip

Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efisiensi dalam penggunaan sehari-hari, daya tahan komponen, biaya produksi, keamanan, serta kemampuan teknologi tersebut ketika diterapkan pada AC dan kulkas berukuran komersial.

Dengan demikian, belum berarti AC dan kulkas berbasis freon akan segera digantikan. Teknologi ionokalori saat ini masih berada dalam tahap pengembangan, tetapi hasil eksperimen menunjukkan adanya peluang untuk menghadirkan pendekatan baru dalam teknologi pendinginan.

FAQ

Apa pengganti freon yang sedang dikembangkan?

Salah satu teknologi yang sedang diteliti adalah siklus ionokalori, yang memanfaatkan ion atau garam untuk membantu proses perubahan fase material dan menyerap panas.

Apakah teknologi ionokalori sudah digunakan pada AC rumah?

Belum. Teknologi tersebut masih dalam tahap penelitian dan pengembangan sehingga belum menjadi teknologi standar untuk AC rumah tangga.

Apakah teknologi ini menggunakan garam?

Ya. Eksperimen menggunakan campuran garam berbasis yodium dan natrium. Penelitian selanjutnya juga melihat garam berbasis nitrat sebagai salah satu kandidat material.

Seberapa rendah suhu yang berhasil dicapai?

Dalam eksperimen yang dilaporkan, suhu dapat diturunkan hingga 25 derajat Celsius dengan dukungan daya sekitar 1 volt.

Apakah freon akan langsung hilang dari AC dan kulkas?

Belum. Sistem ionokalori masih perlu melalui berbagai tahap pengembangan dan pengujian sebelum dapat digunakan secara luas sebagai teknologi komersial.

Berita Terkait

Duel Flagship 2nm, Ini Perbedaan OPPO Find X10 Pro Max dan Xiaomi 18 Pro Max
Infinix Xbook 14 Neo Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp7 Jutaan
Punya Kekayaan Rp4.518 Triliun, Mark Zuckerberg Tetap Gunakan Galaxy S24 Ultra
Huawei MatePad Air Z Standar dan Enjoy Edition, Ini Perbedaan Spesifikasi dan Harganya
ASUS ExpertBook P3 G1 Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp14,69 Juta
PC Gaming ASUS ROG G1000 Meluncur, Pendinginan Mampu Tangani 1.000 Watt
J5 EV Laris Manis, Jaecoo Buka Peluang Hadirkan Mobil Listrik Baru
BYD Siapkan Sedan Listrik Ultra-Mewah, Pintu Belakang Ala Rolls-Royce
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 20:00 WIB

Pengganti Freon Mulai Dikembangkan, Teknologi Garam Bisa Ubah AC dan Kulkas

Sabtu, 26 September 2026 - 14:00 WIB

Duel Flagship 2nm, Ini Perbedaan OPPO Find X10 Pro Max dan Xiaomi 18 Pro Max

Sabtu, 26 September 2026 - 12:00 WIB

Infinix Xbook 14 Neo Resmi di Indonesia, Harga Mulai Rp7 Jutaan

Sabtu, 26 September 2026 - 10:00 WIB

Punya Kekayaan Rp4.518 Triliun, Mark Zuckerberg Tetap Gunakan Galaxy S24 Ultra

Sabtu, 26 September 2026 - 08:05 WIB

Huawei MatePad Air Z Standar dan Enjoy Edition, Ini Perbedaan Spesifikasi dan Harganya

Berita Terbaru