Jakarta-Pasar aset kripto kembali menjadi perhatian investor global setelah muncul sinyal positif dari pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir. Tekanan jual yang sebelumnya membayangi pasar mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Kondisi tersebut memunculkan optimisme baru bahwa Bitcoin berpotensi memasuki fase reli besar pada 2026, terutama jika tren akumulasi investor terus berlanjut.
Laporan terbaru dari Binance Research mengungkap sejumlah indikator on-chain yang menunjukkan pasokan Bitcoin di pasar mulai menipis. Salah satu indikator utama berasal dari meningkatnya dominasi investor jangka panjang atau long-term holders. Data menunjukkan hampir 60 persen total pasokan Bitcoin tidak bergerak selama lebih dari satu tahun terakhir. Situasi ini mengindikasikan bahwa banyak investor masih percaya terhadap prospek jangka panjang Bitcoin meskipun kondisi ekonomi global belum sepenuhnya stabil.
Penurunan tekanan jual juga terlihat dari cadangan Bitcoin yang tersimpan di berbagai bursa kripto. Saat ini jumlah BTC di exchange berada di level terendah dalam enam tahun terakhir. Dalam dunia kripto, kondisi tersebut sering dianggap sebagai sinyal bullish karena semakin sedikit aset yang tersedia untuk dijual di pasar terbuka. Investor cenderung memindahkan Bitcoin ke dompet pribadi untuk disimpan dalam jangka panjang dibanding melakukan transaksi harian.
Fenomena tersebut memicu spekulasi tentang potensi supply shock di pasar Bitcoin. Supply shock merupakan kondisi ketika permintaan terhadap aset meningkat sementara jumlah pasokan yang tersedia sangat terbatas. Jika situasi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya minat investor institusi, maka harga Bitcoin berpotensi melonjak tajam dalam waktu relatif singkat. Beberapa analis bahkan mulai memperkirakan BTC dapat kembali mencetak rekor harga baru pada siklus pasar 2026.
Selain investor ritel, lembaga keuangan besar juga mulai kembali melirik Bitcoin sebagai aset alternatif. Minat institusi terhadap aset digital meningkat seiring perkembangan regulasi kripto yang semakin jelas di berbagai negara. Banyak perusahaan investasi kini melihat Bitcoin tidak hanya sebagai aset spekulatif, tetapi juga sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang fiat.
Indikator lain yang menjadi perhatian pasar adalah rasio SLRV yang kini berada di dekat level terendah historis. Rasio ini digunakan untuk mengukur dominasi investor jangka panjang dibanding trader jangka pendek. Rendahnya angka SLRV menunjukkan aktivitas spekulasi jangka pendek relatif masih terbatas sehingga pasar dianggap lebih stabil dibanding fase euforia sebelumnya.
Sementara itu, indikator Short-Term Holder MVRV juga mulai menunjukkan pemulihan. Setelah cukup lama berada di bawah level 1,0 sejak akhir tahun lalu, indikator tersebut kini kembali naik. Hal ini berarti sebagian investor jangka pendek mulai memasuki zona keuntungan yang belum direalisasikan. Meski terlihat positif, kondisi tersebut juga membuka peluang aksi ambil untung apabila terjadi sentimen negatif dari pasar global.
Tekanan terhadap pasar kripto memang belum sepenuhnya hilang. Kebijakan suku bunga tinggi dari Federal Reserve masih menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi pergerakan aset berisiko. Selain itu, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat membuat investor global lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka di pasar kripto.
Dalam perdagangan Asia baru-baru ini, harga Bitcoin bahkan sempat turun di bawah USD 77.000 akibat tekanan makroekonomi tersebut. Namun koreksi harga yang terjadi dinilai masih wajar oleh sebagian analis karena pasar sedang mencari titik keseimbangan baru setelah mengalami volatilitas tinggi sejak awal tahun. Banyak investor jangka panjang justru memanfaatkan fase koreksi sebagai momentum akumulasi.
Analis kripto percaya faktor fundamental Bitcoin saat ini jauh lebih kuat dibanding beberapa tahun lalu. Pasokan Bitcoin yang terbatas hanya 21 juta koin membuat aset ini sering disebut sebagai “emas digital”. Ketika permintaan meningkat sementara jumlah pasokan tetap, harga cenderung mengalami kenaikan dalam jangka panjang. Apalagi, adopsi teknologi blockchain dan penggunaan aset digital di berbagai sektor terus berkembang secara global.
Di sisi lain, perkembangan produk investasi berbasis Bitcoin juga ikut mendukung sentimen pasar. Kehadiran ETF Bitcoin di sejumlah negara membuat akses investasi terhadap aset digital menjadi lebih mudah bagi investor tradisional. Langkah tersebut membantu meningkatkan legitimasi Bitcoin di mata pelaku pasar keuangan global dan memperluas basis investor baru.
Meski peluang kenaikan masih terbuka, investor tetap diminta berhati-hati terhadap volatilitas pasar kripto yang tinggi. Harga Bitcoin dapat berubah drastis dalam waktu singkat akibat sentimen global, regulasi pemerintah, maupun aksi jual besar dari investor tertentu. Oleh karena itu, analisis risiko dan strategi investasi jangka panjang tetap menjadi faktor penting sebelum membeli aset digital.
Dengan kombinasi pasokan yang semakin terbatas, meningkatnya dominasi investor jangka panjang, dan potensi masuknya dana institusi, Bitcoin dinilai memiliki peluang besar untuk kembali menjadi pusat perhatian pasar finansial dunia pada 2026. Banyak pelaku pasar kini menunggu apakah fase konsolidasi saat ini benar-benar menjadi awal dari reli besar berikutnya bagi aset kripto terbesar di dunia tersebut.
FAQ
Mengapa tekanan jual Bitcoin mulai mereda?
Tekanan jual menurun karena semakin banyak investor memilih menyimpan Bitcoin dalam jangka panjang dibanding menjualnya di pasar.
Apa arti supply shock pada Bitcoin?
Supply shock adalah kondisi ketika permintaan tinggi tetapi jumlah Bitcoin yang tersedia sangat terbatas sehingga harga berpotensi naik tajam.
Mengapa cadangan Bitcoin di exchange penting?
Cadangan Bitcoin di exchange menunjukkan jumlah aset yang siap diperdagangkan. Jika jumlahnya turun, maka pasokan di pasar menjadi lebih sedikit.
Apa itu investor jangka panjang Bitcoin?
Investor jangka panjang adalah pemilik Bitcoin yang menyimpan aset lebih dari satu tahun tanpa melakukan penjualan aktif.
Apakah Bitcoin masih menarik untuk investasi?
Banyak analis menilai Bitcoin masih memiliki potensi jangka panjang, tetapi investor harus memahami risiko volatilitas pasar kripto. Tim









