Jakarta-Platform e-commerce Shopee kembali mendominasi pasar belanja online Asia Tenggara sepanjang 2025 dengan nilai transaksi fantastis mencapai US$83,2 miliar atau sekitar Rp1.441 triliun. Laporan terbaru Momentum Works menyebutkan capaian tersebut menjadikan Shopee sebagai marketplace terbesar di kawasan dengan pangsa pasar mencapai 53 persen. Lonjakan transaksi digital ini sekaligus membuka peluang besar bagi sektor investasi saham teknologi, bisnis UMKM online, hingga layanan fintech dan logistik digital di Indonesia.
Nilai gross merchandise value (GMV) Shopee meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level US$66,8 miliar atau sekitar Rp1.157 triliun. Dalam satu tahun, pertumbuhan transaksi platform ini mencapai sekitar Rp284 triliun. Kenaikan tersebut menunjukkan daya beli masyarakat digital Asia Tenggara masih sangat kuat meskipun kondisi ekonomi global menghadapi tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan di beberapa negara.
Dominasi Shopee juga memperlihatkan perubahan besar perilaku konsumen yang kini semakin bergantung pada layanan belanja online, pembayaran digital, serta sistem cicilan berbasis fintech. Tren ini membuat sektor e-commerce, pinjaman online legal, dompet digital, hingga saham perusahaan teknologi menjadi perhatian investor pada 2026. Tidak sedikit analis memprediksi industri digital Asia Tenggara masih akan tumbuh agresif dalam beberapa tahun ke depan seiring meningkatnya penetrasi internet dan pengguna smartphone.
Di posisi kedua, gabungan TikTok Shop dan Tokopedia berhasil mencatat GMV sebesar US$45,6 miliar atau sekitar Rp789 triliun. Nilai tersebut melonjak drastis dibandingkan 2024 yang berada di angka US$22,6 miliar. Integrasi media sosial dengan sistem perdagangan digital dinilai menjadi faktor utama pertumbuhan transaksi mereka. Model social commerce kini mulai menjadi ancaman serius bagi marketplace konvensional.
Sementara itu, Lazada tercatat membukukan transaksi sekitar US$18 miliar atau Rp311 triliun. Di sisi lain, Bukalapak mengalami penurunan nilai transaksi dari US$12,8 miliar menjadi US$9 miliar sepanjang 2025. Persaingan ketat antarplatform membuat perusahaan digital harus terus berinvestasi pada teknologi AI, layanan pengiriman cepat, promosi cashback, serta sistem pembayaran online yang lebih aman.
Secara regional, total GMV e-commerce Asia Tenggara mencapai US$157,6 miliar atau sekitar Rp2.729 triliun pada 2025. Angka ini naik signifikan dibandingkan 2024 yang berada di level US$128,4 miliar. Dalam lima tahun terakhir, nilai ekonomi digital Asia Tenggara bahkan meningkat hampir tiga kali lipat. Pertumbuhan tersebut menjadikan kawasan ASEAN sebagai salah satu pasar ekonomi digital paling potensial di dunia.
Indonesia sendiri masih menjadi pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi mencapai US$57,7 miliar atau sekitar Rp999 triliun. Namun, pertumbuhan Indonesia dinilai mulai melambat dibanding negara lain seperti Thailand dan Vietnam. Thailand justru mencatat lonjakan GMV paling tinggi setelah naik dari US$23,4 miliar menjadi US$35,5 miliar hanya dalam satu tahun. Kondisi ini memperlihatkan persaingan bisnis digital kawasan semakin ketat.
Para pelaku UMKM dan pebisnis online diperkirakan akan semakin agresif memanfaatkan marketplace untuk meningkatkan penjualan pada 2026. Selain itu, sektor pendukung seperti jasa ekspedisi, layanan cloud computing, digital marketing, hingga asuransi bisnis online diprediksi ikut menikmati pertumbuhan besar. Banyak perusahaan kini mulai meningkatkan investasi teknologi demi mempertahankan pangsa pasar di tengah persaingan e-commerce yang semakin sengit.
Dominasi Shopee dan pertumbuhan pesat industri e-commerce Asia Tenggara menunjukkan transformasi ekonomi digital masih menjadi peluang besar bagi investor maupun pelaku usaha. Dengan tingginya transaksi online, sektor teknologi, saham digital, fintech, dan bisnis berbasis AI diperkirakan tetap menjadi magnet investasi yang menjanjikan sepanjang 2026.
FAQ
1. Berapa nilai transaksi Shopee pada 2025?
Shopee mencatat GMV sebesar US$83,2 miliar atau sekitar Rp1.441 triliun.
2. Mengapa industri e-commerce penting bagi ekonomi digital?
Karena e-commerce mendorong pertumbuhan UMKM, fintech, logistik, pembayaran digital, dan investasi teknologi.
3. Marketplace terbesar kedua di Asia Tenggara apa?
Gabungan TikTok Shop dan Tokopedia dengan transaksi sekitar Rp789 triliun.
4. Negara dengan pertumbuhan e-commerce tercepat di ASEAN?
Thailand menjadi negara dengan pertumbuhan GMV tertinggi sepanjang 2025.
5. Apa sektor yang diuntungkan dari pertumbuhan e-commerce?
Fintech, saham teknologi, logistik, digital marketing, cloud computing, dan pembayaran digital









