Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum untuk Ketahanan Energi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI – PT Pertamina (Persero) terus mengembangkan bahan bakar nabati atau biofuel dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dalam negeri. Sejumlah bahan baku yang menjadi perhatian perusahaan meliputi kelapa sawit, molase tebu, sorgum, hingga minyak jelantah.

Pengembangan tersebut diarahkan untuk memperluas pilihan sumber energi domestik, mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, serta mendukung upaya menekan emisi gas rumah kaca.

Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah biogasoline berbasis kelapa sawit. Selain itu, Pertamina juga mengembangkan bioetanol dari molase dan menjajaki pemanfaatan sorgum sebagai alternatif bahan baku.

Senior Vice President Business Development Pertamina, Ary Kurniawan, mengatakan diversifikasi bahan bakar nabati merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan sumber daya energi yang tersedia di Indonesia.

Dalam keterangan tertulis yang dikutip Kompas.com pada Minggu, 11 Oktober 2026, Ary menyebut biogasoline berbasis sawit akan menjalani uji coba di dua kilang Pertamina.

Langkah tersebut menjadi salah satu bagian dari pengembangan teknologi bahan bakar alternatif yang diharapkan dapat memperkuat pasokan energi nasional.

Biogasoline Berbasis Sawit Mulai Disiapkan untuk Uji Coba

Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang berpotensi mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Selain dimanfaatkan untuk industri pangan dan berbagai produk turunan, minyak sawit juga dapat diolah menjadi bahan baku bahan bakar nabati.

Pertamina mengembangkan biogasoline berbasis sawit sebagai salah satu alternatif untuk memperluas penggunaan sumber daya domestik dalam sektor energi.

Rencana uji coba di dua kilang menjadi tahapan penting untuk mengevaluasi penerapan teknologi tersebut. Namun, informasi mengenai jadwal pelaksanaan, skala pengujian, serta kesiapan produksi komersial masih perlu mengacu pada penjelasan resmi perusahaan.

Pengembangan biogasoline juga perlu memperhatikan spesifikasi bahan bakar, kompatibilitas dengan mesin kendaraan, biaya produksi, dan kesiapan infrastruktur distribusi.

Dengan pengujian yang memadai, bahan bakar nabati diharapkan dapat dikembangkan sesuai standar teknis dan kebutuhan pasar dalam negeri.

Bioetanol Sorgum Jadi Alternatif Bahan Baku

Selain sawit, Pertamina menjajaki penggunaan sorgum untuk menghasilkan bioetanol. Tanaman ini menjadi alternatif bahan baku karena biomassa yang dihasilkan dapat dimanfaatkan melalui proses pengolahan tertentu.

Manager Sustainability Rating & Disclosure Pertamina, Hendrick Warman, menyampaikan bahwa perusahaan telah mengembangkan proyek percontohan bioetanol melalui fermentasi biomassa sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Baca Juga :  Cara Menaikkan Limit PayLater dengan Cepat dan Aman

Pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas sumber bahan baku bioetanol, yang selama ini antara lain menggunakan molase atau tetes tebu.

Menurut keterangan yang disampaikan Hendrick dalam webinar Our Power; Our Planet pada 24 April 2026, Pertamina juga mengkaji penggunaan bahan baku lain, termasuk sorgum dan aren.

Diversifikasi ini penting untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan baku. Ketersediaan bahan baku, produktivitas tanaman, kebutuhan lahan, pasokan air, serta biaya pengolahan akan menjadi sejumlah faktor yang menentukan kelayakan pengembangan bioetanol.

Bioetanol sendiri merupakan bahan bakar berbasis alkohol yang dapat diproduksi melalui fermentasi bahan yang mengandung gula atau pati setelah melalui proses pengolahan yang sesuai.

Dalam campuran bensin, bioetanol dapat membantu meningkatkan angka oktan atau research octane number (RON). Meski demikian, besarnya manfaat terhadap lingkungan tidak hanya ditentukan oleh jenis bahan bakar, tetapi juga oleh proses produksi dan distribusi bahan bakunya.

Minyak Jelantah Dikembangkan Menjadi Bahan Bakar Pesawat

Pertamina juga mengembangkan pemanfaatan minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) untuk menghasilkan sustainable aviation fuel (SAF), yakni bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Inisiatif ini membuka peluang pemanfaatan limbah minyak goreng yang sebelumnya berpotensi terbuang menjadi bahan baku bernilai ekonomi.

Penggunaan bahan baku limbah dapat menjadi salah satu pendekatan untuk mendukung pengurangan emisi sektor penerbangan. Namun, manfaat lingkungan SAF harus dinilai berdasarkan keseluruhan siklus hidup, termasuk pengumpulan minyak jelantah, proses pengolahan, kebutuhan energi, dan distribusinya.

Pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan juga membutuhkan pemenuhan standar mutu dan keselamatan yang berlaku di industri penerbangan.

Jika dikembangkan secara terukur, pemanfaatan minyak jelantah berpotensi menghubungkan pengelolaan limbah dengan kebutuhan energi alternatif. Rantai pasok yang transparan juga diperlukan untuk memastikan bahan baku benar-benar berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Program Biodiesel B50 untuk Menekan Impor Solar

Diversifikasi energi Pertamina turut berkaitan dengan pengembangan biodiesel B50. Program ini merujuk pada campuran 50 persen biodiesel dan 50 persen solar berbasis minyak bumi.

Biodiesel berbahan baku minyak sawit diharapkan dapat memperbesar porsi energi domestik dalam pemenuhan kebutuhan bahan bakar diesel.

Baca Juga :  Honda EV Outlier Raih Red Dot Award 2026, Motor Listrik Ini Punya Desain Tak Biasa

Dalam materi proyeksi yang dikutip dari Pertamina, penerapan B50 diperkirakan berpotensi mengurangi kebutuhan impor solar sekitar 18 juta kiloliter dan menekan emisi hingga 44 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).

Program tersebut juga diproyeksikan menghasilkan penghematan devisa hingga Rp170 triliun pada 2026. Dari sisi ekonomi, pemanfaatan biodiesel diperkirakan dapat menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar Rp20,9 triliun.

Angka-angka tersebut merupakan proyeksi, bukan hasil yang otomatis tercapai. Realisasi manfaatnya akan bergantung pada pelaksanaan program, kebutuhan bahan bakar nasional, harga komoditas, kapasitas produksi, serta kondisi pasar energi.

Penerapan B50 juga membutuhkan kesiapan teknis pada rantai produksi dan distribusi. Kualitas bahan bakar, kompatibilitas mesin, serta pengawasan standar menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Tantangan Pengembangan Biofuel di Indonesia

Meski memiliki potensi besar, pengembangan bahan bakar nabati masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi, ketersediaan bahan baku, dan keberlanjutan lingkungan.

Pengembangan biofuel berbasis sawit, misalnya, perlu mempertimbangkan produktivitas perkebunan, perubahan penggunaan lahan, dan dampak lingkungan. Sementara itu, sorgum dan aren memerlukan rantai pasok yang memadai agar dapat diproduksi secara konsisten dalam skala industri.

Biaya produksi juga menjadi faktor penting. Bahan bakar alternatif perlu memenuhi spesifikasi teknis sekaligus memiliki struktur biaya yang memungkinkan penerapan secara berkelanjutan.

Dukungan regulasi pemerintah, standar mutu, investasi teknologi, serta kepastian pasar dapat memengaruhi kecepatan pengembangan berbagai jenis biofuel.

Pertamina menyatakan bahwa dukungan kebijakan, termasuk mandat penggunaan bahan bakar nabati, diperlukan agar pemanfaatan energi alternatif dapat diperluas.

Pada akhirnya, keberhasilan diversifikasi energi tidak hanya diukur dari banyaknya jenis bahan bakar yang dikembangkan. Ketersediaan pasokan, keterjangkauan biaya, manfaat ekonomi, serta dampak lingkungan yang terukur juga perlu menjadi pertimbangan.

Melalui pengembangan biogasoline sawit, bioetanol sorgum, pemanfaatan minyak jelantah, dan program biodiesel, Pertamina berupaya memperluas pilihan sumber energi domestik. Tahap berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut dapat diterapkan secara teknis, ekonomis, dan berkelanjutan untuk mendukung ketahanan energi Indonesia.

Berita Terkait

Malaysia Tawarkan Bantuan Karhutla Indonesia, Wakil PM Sebut Belum Ada Respons
Microsoft Decision-1 Resmi Diperkenalkan, Bisa Menilai Jawaban AI dengan Cepat
Elon Musk Perluas Bisnis Seluler, Ini Strategi SpaceX Kembangkan Starlink Mobile
Sony ECM-AX10, Mikrofon Smartphone 24 Gram yang Bisa Rekam Audio 360 Derajat Sony ECM-A
Produksi iPhone 18 Pro Dipangkas hingga 20 Persen, Harga Chip Memori Melonjak
Panduan Pencairan JHT Tanpa Resign: Dokumen, Batas Saldo, dan Prosedur
ASUS ProArt GR1X, Mini PC Ringkas untuk Gaming, Kreator Konten, dan AI
Internet 5G Telkomsel untuk Liburan dan WFA, Ini Keunggulannya
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum untuk Ketahanan Energi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Malaysia Tawarkan Bantuan Karhutla Indonesia, Wakil PM Sebut Belum Ada Respons

Selasa, 13 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Elon Musk Perluas Bisnis Seluler, Ini Strategi SpaceX Kembangkan Starlink Mobile

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Sony ECM-AX10, Mikrofon Smartphone 24 Gram yang Bisa Rekam Audio 360 Derajat Sony ECM-A

Senin, 12 Oktober 2026 - 16:06 WIB

Produksi iPhone 18 Pro Dipangkas hingga 20 Persen, Harga Chip Memori Melonjak

Berita Terbaru