JAKARTA, Kayonews.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 5,65 persen pada penutupan perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026. Indeks berakhir di level 5.278,88 setelah bergerak pada rentang 4.980 hingga 5.278 sepanjang perdagangan.
Data RTI Infokom menunjukkan mayoritas saham bergerak di zona hijau. Sebanyak 670 saham menguat, sedangkan 99 saham melemah dan 30 saham stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp9.307 triliun.
Penguatan IHSG turut ditopang lonjakan saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menguat 7,88 persen ke Rp5.200 per saham. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) naik 9,84 persen ke Rp2.790.
Saham PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) juga mencatat kenaikan signifikan. Harga saham bank pelat merah tersebut meningkat 9,82 persen menjadi Rp3.690 per saham pada akhir perdagangan.
Sejumlah saham lain turut mencatat penguatan tajam. Saham Telkom Indonesia (TLKM) naik 16,38 persen ke Rp2.060. Saham Bumi Resources (BUMI) menguat 8 persen ke Rp135, sedangkan Amman Mineral Internasional (AMMN) naik 7,18 persen ke Rp3.730 per saham.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG terjadi di tengah upaya regulator memulihkan kepercayaan investor. Sebelumnya, perhatian pasar tertuju pada peringatan MSCI mengenai risiko penurunan status pasar modal Indonesia menjadi standalone market pada tahun depan.
Menanggapi tekanan tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menyiapkan pembenahan mekanisme pasar. Salah satu langkah yang dirancang ialah mengecualikan emiten dengan konsentrasi kepemilikan saham tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari penghitungan IHSG. Kebijakan ini berkaitan dengan upaya menjaga kualitas pasar dan merespons perhatian penyedia indeks global.
Lonjakan IHSG menjadi perkembangan penting bagi investor setelah tekanan sentimen MSCI. Namun, kenaikan tajam dalam satu sesi belum menjamin tren penguatan berlanjut. Investor perlu mencermati kebijakan lanjutan BEI, pergerakan saham berkapitalisasi besar, serta risiko volatilitas sebelum mengambil keputusan investasi. (Tim)
Editor : FANDA YOSEPHTA









