JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada pekan perdagangan 12–16 Oktober 2026. Ketika indeks saham Indonesia anjlok 14,91 persen, sejumlah saham justru mencatatkan kenaikan harga hingga hampir 100 persen.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip Bisnis.com, Sabtu (17/10/2026), IHSG ditutup pada level 5.185,105 pada Jumat (16/10/2026). Posisi tersebut merosot dari 6.093,759 pada pekan sebelumnya. Gejolak pasar muncul di tengah kekhawatiran investor terhadap wacana perubahan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Di tengah tekanan tersebut, PT Sepeda Bersama Indonesia Tbk. (BIKE) menjadi saham dengan kenaikan tertinggi dalam daftar yang dilaporkan. Harga BIKE melonjak 96,26 persen menjadi Rp4.200 per saham, dari sebelumnya Rp2.140. Artinya, saham ini hampir mencatatkan kenaikan dua kali lipat dalam satu pekan perdagangan.
Posisi kedua ditempati PT Tifico Fiber Indonesia Tbk. (TFCO). Saham ini melesat 94,17 persen menjadi Rp2.000 dari Rp1.030. Selanjutnya, PT Pioneerindo Gourmet International Tbk. (PTSP) menguat 63,30 persen ke Rp1.780, sedangkan PT Alkindo Naratama Tbk. (ALDO) naik 62,92 persen menjadi Rp1.955.
Kenaikan juga terjadi pada saham PT Bank of India Indonesia Tbk. (BSWD), yang menguat 56,25 persen ke Rp5.625. Berikutnya, PT Arthavest Tbk. (ARTA) naik 33,71 persen menjadi Rp2.340, sementara PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk. (AKKU) menguat 29,63 persen ke Rp105. PT Guna Timur Raya Tbk. (TRUK) melengkapi kelompok saham dengan kenaikan di atas 20 persen setelah menguat 24,81 persen ke Rp3.220.
Dua saham lainnya juga masuk dalam daftar 10 besar penguatan mingguan. PT Cipta Sarana Medika Tbk. (DKHH) naik 22,22 persen menjadi Rp99, sedangkan PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk. (SBMA) menguat 14,55 persen ke Rp126. Meski mencatatkan kenaikan signifikan, performa mingguan tersebut tidak otomatis menunjukkan bahwa harga saham akan terus meningkat.
Sebaliknya, tekanan pasar secara keseluruhan terlihat dari penurunan kapitalisasi pasar BEI sebesar 14,43 persen menjadi Rp9.157 triliun. Pada Jumat (16/10/2026), BEI juga menerapkan penghentian sementara perdagangan atau trading halt pada pukul 08.58 WIB setelah IHSG merosot hingga 8 persen. Investor asing mencatatkan jual bersih Rp3,34 triliun pada hari yang sama, sementara akumulasi jual bersih sepanjang 2026 mencapai Rp88,19 triliun.
Salah satu perhatian utama pelaku pasar adalah wacana MSCI mengenai perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen memperkuat koordinasi dan meminta penjelasan mengenai dasar penilaian tersebut. Berdasarkan informasi dalam laporan sumber, proses konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027 dan belum menjadi keputusan final. Investor perlu mencermati perkembangan kebijakan, fundamental emiten, serta risiko volatilitas sebelum mengambil keputusan investasi. (*)
Editor : Fanda Yosephta









