Jakarta-Rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI Rate) pada Rabu, 21 Oktober 2026. Namun, penguatan mata uang Garuda belum sepenuhnya mendorong penurunan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) di pasar sekunder.
Nilai tukar rupiah terapresiasi 0,31% ke level Rp17.987 per dolar AS. Pelemahan dolar AS dan pergerakan harga minyak dunia menjadi sejumlah faktor yang mendukung penguatan rupiah menjelang keputusan kebijakan moneter BI.
Di tengah perkembangan tersebut, pasar obligasi pemerintah masih menghadapi tekanan. Yield SUN mengalami kenaikan 1 hingga 4 basis poin pada berbagai tenor. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor lima tahun berada di level 7,20%, sedangkan tenor 10 tahun mencapai 7,42%.
Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas, Ridwan Adi Gunawan, memperkirakan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun bergerak dalam kisaran 7,30% hingga 7,45% pada perdagangan hari ini. Proyeksi tersebut mencerminkan dinamika pasar global dan domestik menjelang pengumuman BI Rate.
Bank Indonesia memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga acuan apabila kondisi pasar mendukung. Namun, tekanan eksternal masih menyisakan risiko perubahan kebijakan moneter pada kuartal IV 2026. Karena itu, investor perlu mencermati keputusan BI dan respons pasar obligasi setelah pengumuman tersebut.
Sementara itu, permintaan investor dalam lelang sukuk pemerintah juga mengalami penurunan. Total penawaran pada lelang Selasa turun 30,2% menjadi Rp22,76 triliun, dibandingkan Rp32,61 triliun pada lelang sebelumnya. Penurunan permintaan terutama terjadi pada instrumen Surat Berharga Syariah Negara seri PBS.
Sebaliknya, instrumen Surat Perbendaharaan Negara (SPN) bertenor pendek menarik penawaran gabungan Rp14,60 triliun. Nilai tersebut mencakup 64,1% dari total penawaran lelang. Perbedaan minat investor ini menunjukkan bahwa pemilihan tenor dan pengelolaan risiko menjadi pertimbangan penting dalam investasi obligasi.
Untuk strategi trading, Ridwan merekomendasikan lima seri obligasi pemerintah, yakni FR0090, PBS030, FR0087, FR0110, dan FR0100. Investor tetap perlu membandingkan harga pasar, yield hingga jatuh tempo, likuiditas, serta risiko perubahan harga sebelum mengambil keputusan. Proyeksi yield bukan jaminan keuntungan, sehingga investor perlu menyesuaikan strategi dengan profil risiko dan jangka waktu investasinya. (*)
Editor : FANDA YOSEPHTA









